MOTION DESIGN DALAM INDUSTRI


Seorang teman pernah berkata, “Kreatifitas adalah syarat utama dalam memenangkan perhatian TV Viewer”. Ironisnya, kreatifitas yang memerlukan proses berfikir mulai dari pendalaman permasalahan, rancangan visual approach hingga eksekusi kini harus diabaikan, mengingat saat ini para creator harus berhadapan dengan kenyataan bahwa standarisasi TV di tanah air telah bermetamorfosa menjadi industri cepat saji ala warung Indomie. Harus segera matang, bisa sekaligus dimasak banyak, peralatan minimum dan siapa saja bisa dipaksa menjadi koki. Mungkin karena selera pasar kita yang penting kenyang walau tidak bergizi.

Bisa dibilang benar juga kata-kata teman saya ini, karena stasiun TV swasta umumnya mendapatkan pemasukkan dari iklan. Dan semuanya bergantung dari divisi sales dan marketing dalam mencari klien untuk memasang iklan mereka di TV. Klien selalu berusaha memasang spot mereka di program yang banyak dilihat oleh pemirsa jadi persepsi menjadi berubah. Program yang dibutuhkan di stasiun TV selalu dilihat dari perspektif Rating dan Share yang tinggi. Artinya kekuatan pemirsalah dalam memutuskan apa yang akan mereka tonton, mereka bisa setiap saat menekan tombol remote untuk memilih tontonan yang menurut mereka sesuai. Akhirnya secara kemasan program, banyak faktor-faktor artistik yang diabaikan, content diutamakan dan data Rating dan Share jadi patokan. Pihak TV pun tidak begitu peduli dengan proses dari sebuah pembuatan karya grafis, keinginan mereka adalah kemasan harus segera jadi untuk segera tayang, tayang dan tayang.

Dari perubahan pola pikir yang sudah berjalan lama di stasiun TV ini, sebenarnya banyak yang tidak diketahui oleh motion designer pemula dengan pola pikir mereka harus membuat karya dengan tampilan terbaik dan idealism mereka. Masalah yang timbul biasanya designer tidak dapat menguasai pekerjaan mereka, stress dengan deadline dan akhirnya karya dibuat dengan tidak maksimal.Lalu bagaimana pemecahannya?

Kreatifivitas jadi jawabannya. Seorang motion designer harus menguasai hal ini meskipun tiap kepala orang berbeda dalam menterjemahkannya. Efisiensi menurut teman saya adalah memotong beberapa proses. Kalau menurut saya efisiensi adalah menggunakan tehnik dan cara yang sesuai dengan apa yang akan digarap. Dan kedua hal tersebut masuk dalam apa yang dinamakan kreatif. Karena kreatif tidak selalu berkaitan dengan visual namun termasuk didalamnya sebagai sebuah proses dan eksplorasi.

Library dan kecepatan juga termasuk kreatif. Bagaimana seorang creator menggunakan library di kepalanya untuk mengatasi hal teknis maupun artistik yang ada dihadapannya. Kecepatan selalu terhubung dengan kebiasaan. Adalah omong kosong jika sudah terbiasa tapi tetap tidak bisa kreatif dalam menentukan kecepatan kerja.

Jadi pemikiran tentang industri cepat saji ala warung indomie harus diselaraskan dengan kemampuan kreatif dalam berbagai hal untuk menghasilkan karya yang tetap maksimal. Masuk ke industry media harus mengikuti peraturan yang ada, dan dalam peraturan itu kita harus tetap berpikir kreatif untuk mengatasinya.

Original written : Gegerblues’09

Advertisements