SOUND UNTUK MOGRAPH


mixerJika kita berkesempatan secara langsung membandingkan animasi bisu tempoe doeloe dengan animasi sekarang. Tentu kita dapat memastikan amat pentingnya peran sound dalam video sebagai karya audio-visual. Sebuah karya motion graphic dengan tehnik yang sederhana bisa terlihat luar biasa karena peran sound yang melengkapi karya tersebut.

Pada lingkup profesional, sound dikerjakan oleh seorang sound designer profesional yang bertanggung jawab melakukan perekaman suara hingga ke tahap mixing akhir pada proses pembuatan film, program televisi, atau produksi audio-visual lain. Secara garis besar sound yang akan di-mixing di tahap akhir berasal dari 3 hal : sound yang berasal dari pengambilan gambar asli, sound efek, dan sound/musik ilustrasi. Untuk motion graphic biasanya sound berasal dari ilustrasi music dan sound efek.

Sound designing dilakukan untuk menguatkan “jiwa” visual, meningkatkan efektivitas pesan komunikasi yang hendak disampaikan. Contoh pada sebuah film, dialog para pemeran jelas memberi informasi tentang cerita yang dibangun. Sering kali background suara antara pengambilan gambar yang satu dengan yang lain berbeda, sehingga perlu di-edit untuk menghindari kejanggalan. Suara-suara lain mungkin perlu ditambahkan sedemikian rupa untuk lebih “menghidupkan” adegan sesuai dengan pengambilan gambar yang telah diambil (misalnya, suara sepoi angin, desir ombak,,,). Efek suara mungkin perlu ditambahkan untuk mendramatisir adegan (misalnya, adegan baku hantam pada perkelahian). Sedangkan musik ilustrasi seringkali secara efektif menciptakan mood tertentu, akan jelas terasa misalnya pada film horror buatan Indonesia.

Sebuah karya grafis dibuat audionya untuk memberi tekanan, aksen dari gerakan-gerakan dan mood. Inilah yang nantinya mengisi ‘jiwa’ dari sebuah karya. Dan seorang sound designer haruslah orang yang mempunyai kemampuan musikal diatas rata-rata. Karena taste dan kepekaan sangat diperlukan

Seorang sound designer bisa mengawali pekerjaannya dari merekam suara-suara yang diperlukan (jika belum ada). Misalnya, merekam narasi untuk produk video profil, atau merekam suara benda dipukul (sebagai sound efek pada adegan baku hantam), atau mulai dari menciptakan musik baru (atau mengaransemen musik yang lama) untuk mengisi kebutuhan pengisian ilustrasi musik. Setelah direkam, sound ini kemudian di-edit lalu dimixing dengan elemen sound yang lain untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pada software-software video editing umumnya juga tersedia fitur untuk editing sound meski dalam kapasitas yang terbatas, sementara itu sejumlah aplikasi stand alone professional program seperti Logic Pro, Audition, Nuendo dan lain-lain memiliki kemampuan lanjutan untuk menciptakan dan mengolah suara sehingga lebih layak masuk ke dalam kategori sound enginering.

Original written : Gegerblues’09

Interview with Yane Susanto (ANTV sound designer)

Advertisements