POP CULTURE


pop-imagesIdi Subandy Ibrahim dalam “Lifestyle Ecstacy: Kebudayaan Pop dalam “Masyarakat Komoditas” [1996] pernah mempertanyakan di manakah moralitas dan etika saat ini?. Suatu pertanyaan yang menganggap bahwa kebudayaan pop adalah sesuatu yang negative karena selalu berhubungan dengan konsumerisme. Lalu bagaimana kaitannya dengan dunia motion graphic yang penampilan dari karyanya selalu berhubungan dengan industri komunikasi yaitu televisi, film dan iklan?.

Pengertian Pop Culture

Disebut juga Pop culture, budaya popular adalah budaya yang berkembang mengikuti perubahan zaman yang perkembangannya lebih banyak ditentukan industri komunikasi seperti film, televisi, media berita dan industri iklan. Sedangkan Allan O’Connor, salah seorang pengkaji budaya, saat menyoroti topik “popular culture,” menjelaskan bahwa terma ini mengacu pada “proses budaya yang berlangsung di antara masyarakat umumnya (general public)”.

Konsumerisme dan budaya popular sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ideology kapitalisme yang banyak mempengaruhi kehidupan social masyarakat di Dunia. Budaya ini diciptakan sebagai bagian dari logika pasar dan komoditi. Hasrat masyarakat dijadikan komoditi pasar yang menguntungkan bagi pihak-pihak tertentu. Tentu saja keberadaan Kedua ideology ini akan mengancam tatanan nilai dan identitas yang telah dianut oleh masyarakat selama ini, terutama budaya hidup sederhana dan bersahaja.

Pop Culture dan Motion Graphic

Budaya popular selalu berubah mengikuti ruang dan waktu. Hal ini dikarenakan ideologi budaya popular memang komersialisasi dan komodifikasi. Begitu juga dunia motiongraphic yang selalu berubah untuk mengikuti trend yang berlaku dalam suatu masa. Lepas dari anggapan tentang budaya pop yang negatif, dunia motion graphic harus tetap mengikuti perkembangan. Karena sebuah kemasan program yang tidak mengikuti perkembangan seni akan dianggap ketinggalan atau kuno. Namun pola pikir dalam motion graphic tentu daja berbeda dengan jenis design yang lain seperti seperti cetak. Karena dalam motion graphic perlu adanya style-style yang baru. Bukan berarti penemuan baru, karena untuk jaman sekarang. Kita tidak lagi menemukan sesuatu yang baru namun memadukan hal-hal yang sudah pernah dilakukan untuk menemukan style yang baru. Bicara tehnik tentu akan sama dengan tehnik yang lain . Hanya saja secara visual terlihat unik dan berbeda tapi dengan style yang telah dikembangkan dalam design tentang apa yang disukai oleh pemirsa, apa yang menjadi trend dan populer di komunitas design di masa yang sedang berlaku.

Karena motion graphic hidup di ruang publik, mau tidak mau yang harus diikuti adalah selera publik. Permasalahan yang dihadapi dengan keadaan sosial masyarakat karena berkembangnya budaya pop ini tentu saja berbeda. Karena dalam motion graphic untuk televisi tujuannya bukanlah berpikir tentang komoditas dan keuntungan semata. Tetapi lebih kepada style dari perkembangan dari dunia motion graphic itu sendiri.

Gegerblues 2009

Referensi:

  1. Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2003
  2. Wikipedia
Advertisements